Friday, 16 October 2009

SCHEMATIC PROCESS OF PALM OIL MILL


Wednesday, 7 October 2009

DIGESTER

Digester adalah Vessel untuk melumatkan buah/brondolan dan dipanasi sampai temperatur 95oC +/- 2oC sehingga memenuhi kondisi untuk di press. Digester juga berfungsi mendorong buah atau brondolan menuju mesin press.
Buah yang masuk kedalam digester akan dilumatkan oleh pisau-pisau (long arm dan short arm) yang berputar, yang ada didalamnya. Oleh karena itu saat operasi digester harus minimal ¾ penuh, agar buah atau brondolan mengenai keseluruh pisau sehingga proses pelumatan akan sempurna. Setelah dilumatkan kemudian buah didorong oleh pisau pendorong (expeller arm) menuju press.

Fungsi Digester
• Mengaduk brondolan masak / Mass passing digester (MPD) sehingga menjadi bubur (mash)
untuk mempermudah proses pressing.
• Memecah dinding sel dari “oil bearing cell” untuk melepas minyak dari mesocarp.
• Men-drain minyak (pure oil) yang sudah terbentuk di digester
• Memanaskan brondolan untuk mempermudah proses pressing
• Jika sel minyak tidak pecah, akan menyebabkan hilang di sludge dan jika tdk diperas dari
fibre maka akan hilang di press cake
• Melepas pericarp dari nut
Model Digester ( produk CB industries)










Jenis-jenis Digester
1. Vertical Steriliser


Vertical Digester

Bagian-bagian Vertical Digester


2. Horizontal Digester

Wednesday, 27 May 2009

THRESHER

Perlakuan (treatment ) kedua pada proses pengolahan kelapa sawit setelah perebusan adalah penebahan (Threshing). Proses penebahan ini bertujuan adalah untuk melepaskan brondolan (fruit) dengan janjangan (Bunch).

Setelah buah (fruit bunch) direbus maka proses berikutnya adalah melepaskan brondolan dari janjangan (bunch). Saat ini ada tiga jenis alat angkut yang digunakan untuk men-suply buah dari sterilizer ke Thresher, yaitu :
1. Lorry yang diangkat oleh Hoisting Crane (sistem sterilizer konvensional)
2. Lorry + Tipper (sistem sterilizer konvensional)
3. Conveyor (Scrapper conveyor (Sistem Continuous Steriliser dan Vertical Steriliser)


Alat yang digunakan untuk melakukan proses ini dinamakan THRESHER. Prinsip kerjanya adalah Thresher berputar dengan putaran tertentu, kemudian buah (fuit bunch) ikut berputar dan terangkat sampai ketinggian tertentu dan akibat gravitasi buah (fruit bunch) jatuh dan mengalami bantingan. Dengan proses ini berkali-kali maka brondolan (fruit) lepas dari janjangan (bunch).


Jenis – jenis Thresher

A. Thresher with Shaft

B. Shaftless Thresher

Effisiensi Threshing
Effisiensi Threshing adalah kemampuan Thresher untuk melepas brondolan dari janjangan.

Dan dipengaruhi oleh :

  •  Effisiensi Sterilisasi.
  • Ketinggian Jatuh dari bunch, ditentukan oleh rpm thresher. (Semakin tinggi semakin bagus-memperbesar gaya energy potensial)
  • Jumlah bantingan paling tidak 6 kali.
  • Feeding sesuai kapasitas dan konstan (jumlah janjangan dalam thresher).

Rumus Putaran Thesher

 Keterangan :

  • n   = Putaran (rpm)
  • D   = diameter Thresher
  • d   = diameter buah (fruit bunch)

Dari rumus diatas dapat disimpulkan bahwa putaran thresher dipengaruhi oleh ukuran buah, semakin besar ukuran buah semakin cepat putaran yang dibutuhkan. Tapi putaran juga dibatasi oleh kecepatan keluarnya janjangan dari thresher (semakin cepat akan menurunkan efisiensi Thresher)




Friday, 24 April 2009

Mimpi Palm Oil Mill Masa Depan

First Palm Oill At Africa

Konsep pengolahan pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill dari Jaman dulu sampai sekarang sama, belum ada lompatan yang signifikan. Tetap konsepnya sterilising, threshing, digesting dan pressing serta pemisahan kernel dari cangkang. Inovasi dan improvement yg dilakukan hanya merubah sistem perebusan, modifikasi alat dari vertical ke horizontal atau sebaliknya, dan lain-lain. Belum ada yg mencoba memotong alur produksi. Contohnya menghilangkan proses digesting, cake/brondolan langsung di press dg suatu alat sehingga stasiun kernel nggak perlu ada lagi. karena karakteristik antara minyak kernel dan CPO berbeda jadi bisa dipisah. Seandainya bisa, Saving Energi akan semakin besar.     

It's only my dream..............

Thursday, 15 January 2009

Pengalaman mengatasi “moisture” kernel tinggi

Minggu III des 2008 saya melakukan “mill visit” ke salah satu pabrik, group perusahaan tempat saya bekerja. Sejak pabrik beroperasi moisture kernel selalu tidak dapat sesuai standard, sangat berfluktuasi tapi lebih banyak diatas standar. Dimana standar yg ditentukan adala 6.5 – 7.5.
Sebelumnya saya informasikan bahwa Kapasitas pabrik 30 ton/jam , Di stasiun kernel digunakan kernel drying silo sebagai pengering kernel, bukan tray kernel drier. Menggunakan dua silo, masing-masing kapasitas 40 metrik ton. Transfer kernel ke silo menggunakan winnowing fan.
Data fan adalah :
1. Fan size : 270 SWSI
2. Type : L
3. Daya : 20 HP x 4P
4. Putaran fan : 1450 rpm
Pihak pabrik sudah melakukan beberapa perbaikan, diantaranya :
1. Saringan kernel di dihidrocyclone dibuat lebih panjang, dengan tujuan meminimalkan air terikut ke kernel drying silo.
2. Temperatur dinaikkan maksimal (dg membuka valve “fully open”), malah mengakibatkan sebagian kernel hangus.
3. Drying silo dibersihkan rutin setiap 2 bulan
4. Retention time diperpanjang (tapi akibatnya kernel menumpuk akibat kapasitas turun akibat retention time ditambah)
Dari beberapa perbaikan yg dilakukan pihak pabrik belum menghasilkan kualitas yg dinginkan. Bahkan ada usulan utk menambah volume silo dg meninggikan. Padahal secara design kapasitas silo sudah lebih dari cukup walaupun rendemen kernel 6%.
Dasar teori :
Kapasitas kernel drying silo : 40 x 0.6 = 24 Ton ( BJ kernel = 0.6), jadi untuk 2 silo jadi 24 x 2 = 48 ton
Produksi kernel perjam : 35 x 0.06 = 2.1 Ton (asumsi rendemen kernel = 6%, troughput maks = 35 t/jam)).
Asumsi : masing2 silo hanya terisi 75% thd volum silo, Kap. Maksimal = 35 T/jam, rendemen kernel = 6%)
Maka : retention time = 48 x 0.8/2.1 = 17.14 ∞ 17 jam, waktu ini sebenarnya sudah cukup utk mengeringkan kenel.
Setelah sampai di site hal yg pertama saya lakukan adalah mengambil data moisture sebelum masuk ke kernel drying silo. Setelah itu mengukur kuat arus (ampere) fan. Datanya sebagai berikut :

Gambar 1.1 Data analisa moisture kernel

Dari data diatas moisture masuk ke kernel drying silo berkisar rata2 = 17 - 19%. data tersebut OK, karena selisihnya dari LTDS I hanya sekitar 1 – 2 %.
Ada satu hal yg terasa lain, yaitu saat saya merasakan hisapan fan. Hisapannya kecil sekali, dari sana saya coba perhatikan amper motor ternyata hanya 12 A dan 13 A, sangat rendah, untuk fan jenis tersebut diatas amper operasional biasanya sekitar 20A. Berarti bisa disimpulkan CFM fan rendah sehingga tidak mencukupi utk mengeringkan kernel dg kapasitas silo 40T. Setelah mengetahui problemnya saya coba perhatikan arah putaran fan (hasil diskusi dg pak ichsan), terbalik apa tdk, ternyata tdk ada masalah. Jadi cara utk mengatasi kurangnya CFM adalah menaikkan putaran operasi (karena CFM berbanding lurus dg putaran. Indikator amper rendah menunjukkan putaran fan belum mencukupi untuk menghasilkan CFM yg diinginkan
Rumus yg digunakan :

Daya (bhp) = V.I (voltase tetap), jadi daya (bhp) I (ampere), maka persamaannya menjadi :

Dari persamaan 1.3 kita hitung putaran fan yg dinginkan :
Data :
Putaran fan saat ini ( = 1450 rpm
Kuat arus saat ini = 12 A
Kuat arus dinginkan = 20 A
Pulley 1 (D1) = 8”
Pulley 2 (D2) = 8”

Maka putaran fan yg dinginkan :

rpm2 =
= 1450 (20/12)1/3
= 1719 rpm ~ 1720 rpm
Penggantian pulley (D2) =
D2 =
= (1450 x 8)/1720
= 6.74 7” atau 6” jika pulley 7” tdk ada.
Dari hasil perhitungan tersebut diaplikasikan ke lapangan penggantian pulley di fan jadi 6” (karena stokpulley 7" tdk ada digudang) dan di motor tetap 8”.
Hasilnya adalah : putaran fan 1900 rpm dan kuat arus 24 A, CFM meningkat, ditandai hisapan fan sudah terasa (kertas diletakkan di depan fan lengket, tdk jatuh).
Data moisture pun menunjukkan perbaikan rata2 moisture kernel berada dibawah 7.5 % (sudah masuk kedalam standar).

KESIMPULAN
Jika anda menemui masalah pada moisture kernel maka langkah yg harus dilakukan adalah :
1. Cek moisture nut kernel dari LTDS I dan sebelum masuk kernel tray drier atau kernel drier silo. Bandingkan perbedaan moisturenya, jika beda terlalu jauh 3-4% maka air dari hidrocyclone banyak terikut ke conveyor atau winower. Moisture yg baik sebelum masuk drier berkisar 17-18%.
2. Pastikan retention time cukup, untuk kernel tray drier biasanya +- 4 jam, untuk kernel drying silo +- 7 jam. Tapi ini tidak baku, tergantung kondisi masing2 pabrik.
3. Untuk kernel tray drier pastikan louvre tdk tersumbat, dan harus dicek minimal 1 kali sebulan
4. Pastikan CFM fan cukup dengan memperhatikan ampere motor utk fan (untuk phoenix fan SWSI 270, 20 HP amper operasi minimal 20A.
5. Pastikan ketebalan kernel +- 15 cm (hal ini tidak baku tergantung kondisi pabrik).

Monday, 1 December 2008

Cara Setting Pintu Steriliser "Konvensional"

Minggu lalu saya dapat email dari pak Ichsan mengenai cara setting pintu seriliser "konvensional". Dimana sering kita temui pintu berat ditutup, sehingga sering ditemui kebocoran steam dan bahkan yg sangat memprihatinkan overlap pintu hanya 50% - 60%. Padahal disyaratkan minimal 80%. Hal2 tersebut terjadi karena tidak tahu teknis men-setting pintu sehingga kondisi pintu yg tidak normal tdk dilakukan perbaikan atau mungkin cara settingnya yg salah.
Berikut ini saya salinkan email dari pak ichsan tetang cara men-setting pintu steriliser :

Deni,

Prinsip menyetting pintu adalah sederhana sekali yaitu face pintu dan face shell pintu harus bertemu tanpa clearance dan center atau memiliki titik pusat yang sama.
Bagaimana cara mengetahuinya center dan rapat/tidak ada clearance ?
Caranya masuk ke dalam dan pintunya ditutup (dengan mengunci pakai racket), sedangkan pintu sisi yang lainnya dibiarkan terbuka sebagai sumber cahaya dan oksigen. Saat pintu tersebut ditutup amati dengan senter/spot light, nah amati bagian sisi mana dari face/lingkaran pintu yang bergeser dari shell atau tidak center.
Yang menjadi persoalan selama ini adalah menyetting pintu hanya melihat dari luar pintu.

Pintu memiliki lengan (arm) dimana sambungannya berupa engsel. Engsel pintu berupa shaft (yg tetap) yang bisa dinaikkan dan diturunkan, kemudian shaft dikelilingi oleh silinder yang memegang lengan (arm pintu). Silinder ini diberi pasangan mur - baut yang berjumlah 4 pcs diatas (2 set) dan 4 pcs dibawah (2 set juga).

Untuk mendapatkan posisi center pintu terhadap shell steriliser posisi titik pusatnya harusnya segaris (agak susah dicari, hanya konsep angan-angan kita). Caranya mencari atau menyocokkan adalah dengan menyetting pasangan mur - baut tersebut diatas.
Perhatikan bahwa untuk menyetel pasangan mur - baut ini hanya diijinkan 1 pasang (set) tidak diperbolehkan untuk melakukan 2 set dalam waktu bersamaan, jika tidak akan terjadi pergeseran pintu yang tidak terkontrol dan bahakan kerusakan baut/aus akibat menahan beratnya pintu.
tiap pasang mur baut diset saat pintu dalam posisi tertutup (tidak perlu dikunci dengan racket) dan biasakan posisi tertutup ini untuk membedakan pasangan mur-baut yang mana yang kita set.
Dalam posisi ini, hanya pasangan mur-baut kiri dan kanan saja yang diset, baik yang yang atas dan yang bawah. Jangan ikut diset pasangan mur-bautnya yang depan dan belakang baik atas dan bawah. menentukan kiri kanan dan muka belakang dimana posisi kita diluar pintu menghadap pintu.

Tiap pasang mur - baut, katakanlah kiri dan kanan (misal bagian atas), jika yang kiri mau dikencangkan (putar kanan) maka yang kanan harus dikendorkan lebih dahulu. Demikian sebaliknya.
Dan prinsip yang utama dari penyettingan adalah karena shaftnya yang tetap maka silinder tadi yang bergerak terhadap shaft tadi berikut dengan pintunya. Jadi kalau dikencangkan baut sebelah kiri maka pintu akan bergerak dengan arah masuk baut, maka akan bergerak ke kanan. Demikian seterusnya.

Jika pintu sudah center, coba dimasukkan dengan dorongan perlahan, jika sudah bergerak dengan sendirinya dan tidak balik menuju shell steriliser berarti sudah ok.
Kadang-kala masih sangkut dengan ring pintu sehingga agak berat menutupnya. yang perlu dilakukan adalah selanjutnynya menyetting ring pintu tersebut. Syaratnya bearing dari ring pintu harus ok, tidak tertutup oleh deposit dari kebocoran steam. bila ada yang macet, tidak ada cara lain kecuali diganti. Semasih bisa dibersihkan dengan solar atau minyak tanah lakukan.

Beri tanda bagian yang sangkut dan pada posisi dekat bearing itulah yang harus dikencangkan. Misalanya pada jam 6 terjadi sangkut maka pada bagian ini bautnya pada ring dikencangkan, sebaliknya pada jam 12 harus dikendurkan. Jadi posisi berlawanan satu dikencangkan satunya dikendorkan.
Jika seetingan ring pintu sudah ok seharusnya clearance antara shell pintu dan ring clearance sama untuk kelilingnya. bisa gunakan filler gauge untuk ini.

Sudah tentu bagian face pintu yang lecet atau tidak rata karena jatuhnya lorry dsb harus digerinda dengan rata.

Tahap terakhir adalah mendorong pintu masuk dan biarkan bergerak sendiri, bila face to face ketemu maka kunci hanya 5%. ini dimaksudkan agar pintu tidak bergerak keluar. lalu pasangan mur-baut depan dan belakang pada bagian atas dan bawah DIKENDURKAN SEMUANYA dalam waktu bersamaan. Jika sudah lakukan penguncian pintu dengan racket secara maksimum. Setelah itu baru lah pasangan mur - baut depan belakang dikencangkan kembali sesuai yang diminta pintu tersebut (jangan dipaksakan harus sama dari posis bautnya sebelumnya). Jadi dengan cara ini pintu sudah merapat dengan baik.

Sekian, terima kasih.


M. Ichsan


Semoga bermanfaat.

Sunday, 21 September 2008

Palm Oil for Trans-Fat Challenges ( by Fran LaBell, Field Editor, Prepared Foods)

When developing food products without trans-fatty acids, food scientists should consider formulating items with palm oil. Trans-fatty acids, in general, are thought to increase the risk of cardiovascular disease and cancer, and they are formed when fats are hydrogenated to make them more solid and extend their shelf life. Because palm oil is semi-solid naturally, it does not require hydrogenation. Palm oil is extracted from the fruit of the oil palm, Elaeis guineensis. Unlike many other vegetable oils, the extraction is done without using solvents. Palm oil is the leading agricultural crop of Malaysia, which is the world's largest producer. The oil, from the flesh of the fruit, is refined to remove free fatty acids, color and unwanted flavor. It can be fractionated into many grades including olein (liquid oil) and stearin (solids), depending on the solid fat level
needed for functionality. The fatty acid composition of palm oil is a mixture of 10% polyunsaturated, 40% monounsaturated and 50% saturated fatty acids. It is about 40% oleic, 10% linoleic, 45% palmitic and 5% stearic acid.


A Plethora of Possibilities

Palm oil is rich in antioxidants. These include beta-carotene, a precursor of vitamin A; and tocopherols and tocotrienols, vitamin E constituents. These scavengers of free radicals are thought to help protect people from cellular aging, atherosclerosis and cancer. Some scientific studies have found that palm oil does not raise blood cholesterol levels, compared to other saturated fats, oleic acid, and trans fats. In fact, in several studies, blood cholesterol was reduced from entry-level values. In a paper supplied by the Palm Oil Research Institute of Malaysia titled, "Trans Fatty Acids Free Food Formulation Based on Palm Oil and its Products," authors Noor Lida Habi Mat Dirn and Mohd Suria Affandi Yusoff give formulations for several trans-fat free products using palm oil fractions, combinations with other oils and interesterified oils.

Palm oil is an unusually rich source of tocotrienols.
Table margarines and bakery shortenings need to be smooth, with a fine crystal structure, so that they can easily be spread and mixed. Bakery shortenings impart a tender quality to baked goods and contribute to the formation of their structure during cooking. Palm oil formulations showed good baking characteristics, producing cakes that were comparable in volume, texture, structure, flavor and eating characteristics when compared to a control of commercial shortening. Frying oils must withstand high temperatures without breaking down or polymerizing quickly, and without oxidizing and turning rancid. Some oils have to be partially hydrogenated for this purpose. However, palm oil has a moderate linoleic acid content and small linolenic acid content, two polyunsaturated fatty acids that oxidize relatively quickly, as well as a high level of natural antioxidants. Several types of palm oil and palm olein can be used successfully in frying applications, without hydrogenation. Cocoa butter substitutes should have the snap and crunch of chocolate and a melt-in-the mouth sensation. A fat similar to cocoa butter may be made from a POP-rich mid fraction (Palmitic-Oleic-Palmitic) of palm oil mixed with another oil fraction, or it can be produced by interesterification of palm olein. Interesterification of palm oil also produces confectionery fats that can be used, for example, as a butter cream filling for cookies. In imitation dairy products, butterfat is replaced with vegetable oil, which lengthens their shelf life. Palm oil can be used in "filled" milks as well as in coffee whiteners or coffee creamers. It also can be used in ice cream and in imitation cheese in a fat blend.